Tjah Angon

7 Followers
9 Following

"Bali Ndeso Mbangun Ndeso"

Sekilas profil tjahangon

Tjahangon merupakan distributor dan penjual komoditi makanan dan minuman yang menjadi oleh-oleh khas Brebes seperti telor asin, bawang madu, kopi secang, wedang uwuh yang penjualannya melalui media atau secara online.

Untuk jenis produknya bisa kunjungi WHATSHOP tjahangon DI SINI

Tjahangon hadir dengan tujuan untuk membantu UKM dalam memasarkan produk khususnya komoditi makanan dan minuman melalui media online.

Untuk katalog produknya bisa kunjungi GALERI WHATSHOP tjahangon DI SINI 

Tjahangon semakin eksis di marketplace dan lebih fokus untuk memasarkan komoditi makanan dan minuman khas dari Brebes yang sebelum pandemi sangat populer menjadi oleh-oleh wisatawan setelah berlibur ataupun mudik lebaran di Brebes.

tjahangon sudah bergabung dengan Tokopedia

Kunci Sukses tjahangon

Menjaga kualitas, amanah, produk khas Menjaga kepercayaan Konsumen dengan sikap responsif secara konsisten sesuai dengan nilai-nilai kode etik, tepat dan cermat untuk menjadikan sesuatu yang baru dan belum pernah ada.

"Bali ndeso mbangun ndeso" menjadi slogan Tjahangon

Alamat TJAHANGON

Jalan Letjend Suprapto No. 141a pasarbatang Kab. Brebes Prov. Jawa tengah 52211 

+62 8529 0309 285

Email. : tjahangon511@gmail.com

Linktree : Linktree

Filosofi

TjahAngon". Dalam bahasa Indoensia berarti "Anak Gembala". Kata ini merupakan penggalan dari sebuah syair yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga dalam upaya penyebaran Agama Islam di nusantara dahulu kala. Karena pada saat itu masyarakat Jawa menyukai tembang-tembang dan gending, membuat Sunan Kalijaga berinisiatif menciptakan sebuah lagu yang dapat menarik hati orang-orang Jawa. Inilah cara dakwah para walisongo yang sangat arif dan bijaksana. Tak memaksakan. Namun justru memasuki budaya yang telah ada dengan nilai-nilai keagamaan secara santun dan penuh toleransi. Kembali mengenai kata "Cah Angon". Kata ini diambil dari sebuah lagu ciptaan Sunan Kalijaga berjudul "Lir Ilir" yang kurang lebih berarti "Sayup-sayup". Dalam lagu ini memiliki makna mendalam dan khusus karena bukan sembarang tembang biasa. Secara lengkapnya, tembang ini berbunyi demikian :

Lir ilir Lir ilir...

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo

tak sengguh temanten anyar

Cah angon-cah angon,

penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodot iro

Dodot iro-dodot iro

Kumitir bedah ing pinggir

Dondomono, jelumatono

Mumpung padhang rembulane

Mumpung padhang kalangane

Yo surak o surak iyo

Tembang tersebut di atas saat ini sudah sangat jarang didengar . Anak-anak suku Jawa zaman dahulu tentu hafal dengan lagu yang satu ini. Di langgar-langgar biasanya lagu ini dinyanyikan setelah adzan sambil menunggu imam datang. Dipadukan dengan sholawat, tentu akan menambah enak untuk didengar telinga. Dari kata-kata yang ada, setiap kata yang dipilih Sunan Kalijaga ini tentu memiliki makna yang dalam.

Makna Cah Angon - cah angon penekno blimbing kuwi lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro, mengapa Kanjeng Sunan memilih kata Cah Angon?? bukan cah pinter atau cah hebat, atau cah ampuh. Kata cah angon dipilih oleh Sunan Kalijaga karena maknanya adalah penggembala. Penggembala diartikan orang yang dapat menggiring yang digembalanya.

Seorang yang dapat membawa makmumnya ke jalan yang diridhoi Allah. Namun tidak hanya itu, penggembala di sini juga dapat diartikan seseorang yang dapat menahan hawa nafsunya, tidak mengumbar amarah, sehingga dapat meraih ridhoNya.

Kemudian penekno blimbing kui berarti panjatkan belimbing itu. Mengapa menggunakan kata 'panjatkan'? karena para wali memerintahkan untuk mengikuti ajaran para nabi-nabi dan rosul dalam menjalankan syariat Islam. Belimbing dimaknai sebagai rukun Islam yang lima. Karena buah belimbing memiliki gerigi berjumlah lima. Jadi seberat apapun cobaan (lunyu-lunyu penekno/meskipun licin, panjatkan) kita harus berusaha menjalankan syariat Islam.

Demikian sedikit ulasan mengenai kata Cah Angon. Mengapa saya sendiri menggunakan kata ini sebagai nama blog sederhana saya. Saya berharap dapat seperti cah angon yang senantiasa berusaha memanjat pohon belimbing.

Meskipun licin, harus terus berusaha untuk memanjatnya. Demi mendapatkan buah belimbing yang segar dan matang. Rukun Islam yang menjadi pegangan orang Islam agar senantiasa di jalanNya sehingga meraih keselamatan dunia dan akherat. Meskipun saya sendiri belum pernah menggembala. Setidaknya menggembala dalam artian di sini. "

  • 1. Kopi Tjah Angon....

    Mengaku pecinta dan penikmat kopi, kurang afd....

    07 May 2021 14:55

  • 2. KOPI BIJI SECAN....

    Kopi biji secang, adalah minuman ringan dari ....

    07 May 2021 14:55

  • 3. Filoshofi tjah ....

    Bumi nusantara ini kaya akan kebudayaan dan a....

    07 May 2021 14:55

"Bali Ndeso Mbangun Ndeso"

Sekilas profil tjahangon

Tjahangon merupakan distributor dan penjual komoditi makanan dan minuman yang menjadi oleh-oleh khas Brebes seperti telor asin, bawang madu, kopi secang, wedang uwuh yang penjualannya melalui media atau secara online.

Untuk jenis produknya bisa kunjungi WHATSHOP tjahangon DI SINI

Tjahangon hadir dengan tujuan untuk membantu UKM dalam memasarkan produk khususnya komoditi makanan dan minuman melalui media online.

Untuk katalog produknya bisa kunjungi GALERI WHATSHOP tjahangon DI SINI 

Tjahangon semakin eksis di marketplace dan lebih fokus untuk memasarkan komoditi makanan dan minuman khas dari Brebes yang sebelum pandemi sangat populer menjadi oleh-oleh wisatawan setelah berlibur ataupun mudik lebaran di Brebes.

tjahangon sudah bergabung dengan Tokopedia

Kunci Sukses tjahangon

Menjaga kualitas, amanah, produk khas Menjaga kepercayaan Konsumen dengan sikap responsif secara konsisten sesuai dengan nilai-nilai kode etik, tepat dan cermat untuk menjadikan sesuatu yang baru dan belum pernah ada.

"Bali ndeso mbangun ndeso" menjadi slogan Tjahangon

Alamat TJAHANGON

Jalan Letjend Suprapto No. 141a pasarbatang Kab. Brebes Prov. Jawa tengah 52211 

+62 8529 0309 285

Email. : tjahangon511@gmail.com

Linktree : Linktree

Filosofi

TjahAngon". Dalam bahasa Indoensia berarti "Anak Gembala". Kata ini merupakan penggalan dari sebuah syair yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga dalam upaya penyebaran Agama Islam di nusantara dahulu kala. Karena pada saat itu masyarakat Jawa menyukai tembang-tembang dan gending, membuat Sunan Kalijaga berinisiatif menciptakan sebuah lagu yang dapat menarik hati orang-orang Jawa. Inilah cara dakwah para walisongo yang sangat arif dan bijaksana. Tak memaksakan. Namun justru memasuki budaya yang telah ada dengan nilai-nilai keagamaan secara santun dan penuh toleransi. Kembali mengenai kata "Cah Angon". Kata ini diambil dari sebuah lagu ciptaan Sunan Kalijaga berjudul "Lir Ilir" yang kurang lebih berarti "Sayup-sayup". Dalam lagu ini memiliki makna mendalam dan khusus karena bukan sembarang tembang biasa. Secara lengkapnya, tembang ini berbunyi demikian :

Lir ilir Lir ilir...

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo

tak sengguh temanten anyar

Cah angon-cah angon,

penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodot iro

Dodot iro-dodot iro

Kumitir bedah ing pinggir

Dondomono, jelumatono

Mumpung padhang rembulane

Mumpung padhang kalangane

Yo surak o surak iyo

Tembang tersebut di atas saat ini sudah sangat jarang didengar . Anak-anak suku Jawa zaman dahulu tentu hafal dengan lagu yang satu ini. Di langgar-langgar biasanya lagu ini dinyanyikan setelah adzan sambil menunggu imam datang. Dipadukan dengan sholawat, tentu akan menambah enak untuk didengar telinga. Dari kata-kata yang ada, setiap kata yang dipilih Sunan Kalijaga ini tentu memiliki makna yang dalam.

Makna Cah Angon - cah angon penekno blimbing kuwi lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro, mengapa Kanjeng Sunan memilih kata Cah Angon?? bukan cah pinter atau cah hebat, atau cah ampuh. Kata cah angon dipilih oleh Sunan Kalijaga karena maknanya adalah penggembala. Penggembala diartikan orang yang dapat menggiring yang digembalanya.

Seorang yang dapat membawa makmumnya ke jalan yang diridhoi Allah. Namun tidak hanya itu, penggembala di sini juga dapat diartikan seseorang yang dapat menahan hawa nafsunya, tidak mengumbar amarah, sehingga dapat meraih ridhoNya.

Kemudian penekno blimbing kui berarti panjatkan belimbing itu. Mengapa menggunakan kata 'panjatkan'? karena para wali memerintahkan untuk mengikuti ajaran para nabi-nabi dan rosul dalam menjalankan syariat Islam. Belimbing dimaknai sebagai rukun Islam yang lima. Karena buah belimbing memiliki gerigi berjumlah lima. Jadi seberat apapun cobaan (lunyu-lunyu penekno/meskipun licin, panjatkan) kita harus berusaha menjalankan syariat Islam.

Demikian sedikit ulasan mengenai kata Cah Angon. Mengapa saya sendiri menggunakan kata ini sebagai nama blog sederhana saya. Saya berharap dapat seperti cah angon yang senantiasa berusaha memanjat pohon belimbing.

Meskipun licin, harus terus berusaha untuk memanjatnya. Demi mendapatkan buah belimbing yang segar dan matang. Rukun Islam yang menjadi pegangan orang Islam agar senantiasa di jalanNya sehingga meraih keselamatan dunia dan akherat. Meskipun saya sendiri belum pernah menggembala. Setidaknya menggembala dalam artian di sini. "